Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Hati-hati dengan Cyber Crime ! Berikut Modus-modus Penipuan yang Sering Terjadi di Media Sosial

Sudah sering terjadi di dunia maya tidak membuat semua masyarakat tahu jenis-jenis modus penipuan yang saat ini seringkali terjadi di media sosial. Hal tersebut terbukti masih banyaknya korban dari kejahatan dunia maya tersebut. Oleh sebab itu membahasnya diharapkan membantu masyarakat memahami modus-modusnya.

Beberapa Modus Penipuan yang Sering Terjadi di Media Sosial saat Ini

Banyak sekali modus penipuan yang saat ini terjadi di media sosial, seperti tidak pandang bulu pelakunya tak memilih dimana akan melancarkan kejahatannya. Bahkan melalui aplikasi chatting Whatsapp juga menjadi sasaran pelakunya dengan modus-modus baru sehingga membingungkan pengguna, berikut gambaran modusnya.

1. Membajak Akun Media Sosial dan Berpura-pura Menjadi Pemilik Aslinya

Source : proxsisgroup.com
Source : proxsisgroup.com

Modus pertama ini sedang sangat ramai dialami oleh beberapa pengguna media sosial. Jadi pelakunya akan membajak akun media sosial lalu menghubungi semua teman yang ada di daftar follower dan following-nya. Mereka akan berpura-pura mengaku sebagai pemilik akunnya, penipuannya pun dilakukan dengan meminjam sejumlah uang.

Jika salah satu teman-temannya ada yang percaya tentu saja tertipu karena pemilik aslinya tidak merasa melakukan hal serupa. Terkadang hal tersebut menimbulkan perdebatan sengit, oleh sebab itulah sebaiknya buat akun Anda menjadi private sehingga kecil kemungkinannya bisa terkena pembajakan sejenis untuk melakukan penipuan.

2. Mengundang Sebagian Orang untuk Masuk ke dalam Grup yang Sudah Dibajak

Source : okezone.com
Source : okezone.com

Melihat beberapa modus ini memang menimbulkan penilaian bahwa para hacker sangat pandai hingga bisa meretas banyak sekali akun, dan terbaru kontak-kontak pada aplikasi chatting. Mereka para pelaku retas akan membajak salah satu kontak lalu memanggil teman di dalamnya kontaknya untuk masuk ke grup yang hanya bohongan.

Grup menjadi salah satu alasan mereka mengundang teman-teman dari pemilik aslinya. Para peretas akan berpura-pura sebagai teman lalu menyuruhnya untuk melakukan tata cara menerima panggilan grupnya tersebut, setelah diterima secara otomatis nomor Anda akan terblokir. Jahatnya lagi mereka mengambil alih nomor-nomor tersebut guna meminta sejumlah uang.

3. Menggunakan Metode Hipnotis untuk Mendapatkan Fokus Korbannya

Source : hot.detik.com
Source : hot.detik.com

Tidak hanya pada media sosial saja, pada dasarnya modus menggunakan hipnotis ini sudah digunakan oleh banyak penipu sebelum adanya maraknya penggunaan medsos. Setelah adanya kemajuan teknologi, pelakunya lebih mudah dalam melancarkan aksinya memanfaatkan komunikasi di whatsapp dan telepon regular untuk menjebak korbannya.

Tetapi tenang saja karena modus hipnotis ini jarang sekali dilakukan langsung melalui media sosial, kebanyakan dari mereka harus secara langsung berhubungan dengan korban. Medsosnya digunakan untuk mencari mangsa terbaik sehingga pelakunya bisa melakukan penipuannya secara langsung tanpa perantara media-media lainnya termasuk sosial.

4. Menjual Barang secara Online dengan Harga Paling Murah dari Pasaran

Source : exabytes.co.id
Source : exabytes.co.id

Hal ini juga menjadi modus paling banyak digunakan karena mudah dalam menelan korbannya juga melakukannya tidak sulit, hanya bermodalkan berbohong saja. Cara keempat tak membutuhkan peretas hanya bermodalkan sandiwara menjadi pedagang online barang-barang tertentu. Untuk menarik konsumennya mereka akan memberikan harga murah.

Misalkan saja membeli tiga piyama hanya 100 ribu rupiah dengan kualitas bahannya terbaik. Lalu setelah terjadi persetujuan membeli barang tersebut, pembeli diharuskan mentransfer sejumlah uang. Jika uangnya sudah diterima, pedagang abal-abal tersebut akan memblokir semua kontak yang berhubungan dengan korbannya serta menghilang seketika.

5. Modus Social Engineering atau Rekayasa Sosial

Source : bapenda.jabarprov.go.id
Source : bapenda.jabarprov.go.id

Melansir dari cermati.com, modus cyber crime kali ini menggunakan cara memanipulasi psikologi sama dengan hipnotis sehingga korbannya merasa tidak sadar lalu memberikan data-data pribadinya. Data tersebut sifatnya rahasia, hal ini justru lebih membahayakan karena beberapa korban merasa dikuras saldo tabungannya memberikan pin ATM-nya.

Modus ini sedang sangat marak dilakukan melalui platform media sosial, email, SMS, Whatsapp, pengiriman langsung pesan di Instagram atau Facebook, hingga via telepon. Oleh sebab itu jika mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal sebaiknya ditolak saja, jika memang penting dari orang-orang dikenal pasti akan menghubungi terlebih dahulu.

Modus-modus di atas harap dimengerti dengan seksama karena memang sudah banyak sekali korbannya, mengingat saat ini media sosial sangat luas jangkauannya. Hal tersebut justru semakin memudahkan pelakunya menjalankan misi jahatnya tersebut mencari korban.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik